PEMANFAATAN HASIL PERKEBUNAN BERUPA BUAH KARET MENJADI TEMPE

 

Setiap orang belum tentu mengenal biji keret,bahkan mengetahui keuntunganya.Yang banyak diketahui masyarakat umum selama ini hanyalah getah karet yang disebut lateks, yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan ban, karet sandal, dan keperluan lain yang berkaitan dengan karet. Selain getah karet, hasil perkebunan yang sering digunakan adalah kayu dari pohon karet sendiri, kayu basah sebagai bahan pembuatan lantai untuk diekspor keluar negeri sementara kayu yang telah kering kebanyakan sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah. Disisi lain, pohon kare juga menghasilkan buah (klathak).

Biji karet sendiri selama ini digunakan perusahan hanya sebagai benih tanaman tersebut untuk keperluan regenerasi tanaman yang sudah tua, namun ini hanya terjadi dalam jangka waktu puluhan tahun. Karena pohon karet merupakan tanaman tahunan yang dilakukan ketika umur tanaman sudah tua dan tidak produktif lagi. Selama ini buah karet tidak memiliki nilai jual yang tinggi, terbuang sia-sia dan tidak dimanfaatkan.

Daerah di Sekitar perkebunan karet, ketika masa berbuah datang banyak ditemukan buah karet yang tidak dimanfaatkan dan tercecer di mana-mana. Padahal di daerah Kabupaten Semarang sendiri terdapat perkebunan karet yang luasnya mencapai 100 Ha lebih, serta perkebunan karet yang berada di Daerah Sumaratra dan Kalimantan yang berpotensi menghasilkan buah karet yang cukup banyak, namun tidak memiliki nilai jual yang tinggi.

Masyarakat di Sekitar perkebunan selama ini tidak memanfaatkan biji karet tersebut sebagai sumber pengghasilan yang lain namun kehidupan keseharianya hanya bergantung pada hasil bekerja di perkebunan yang tidak menentu, untuk itu dengan mengolah biji karet dapat meningkatkan penghasilan mereka, sebab buah karet yang belum diolah tidak memiliki hargajual yang tinggi atau dengan kata lain bahan baku murah. Melihat hal tersebut kami mencoba memanfaatkan biji karet yang berserakan dan dibiarkan berserakan dimana-mana dengan mencoba membuat tempe dari bahan tersebut,karena selama ini tempe terbuat dari bahan kedelai yang merupakan bahan makanan tradisional.

Prospek usaha pembuatan tempe buah karet

Usaha pembuatan minuman tempe buah karet sangat berprospektif, melihat Tempe telah banyak dikonsumsi baik di Indonesia maupun diseluruh dunia, terutama kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menemukan tempe sebagai pengganti daging, sehingga sampai saat ini tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Tempe merupakan sumber protein nabati yang mempunyai nilai gizi yang tinggi . Tempe dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat dengan konsumsi rata-rata sehari/orang 4,4 g sampai 20,0 g. Tempe dapat diperhitungkan sebagai sumber makanan yang baik gizinya karena memiliki kandungan protein, karbohidrat, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral. Nutrisi utama yang hendak diambil dari tempe adalah proteinnya, karena besarnya kandungan asam amino didalamnya. Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degenerative (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain. Karet mampu memproduksi biji kaya protein serta memiliki ongkos produksi yang murah bila dibandingkan dengan tempe biji kedelai yang.  Jadi prospek penjualan tempe buah karet cukup menguntungkan.

Keunggulan tempe buah karet

Adapun Kelebihan tempe dari biji karet:

a) Tempe dari biji karet lebih lembut dari pada tempe dari kedelai.

b) Tempe biji karet tidak cepat menjadi tempe busuk dan dapat disimpan selama 2 minggu di dalam lemari es.

c) Tempe biji karet memiliki kandungan gizi diantaranya Karbohidrat 11,02%

d) Kandungan protein yang terdapat pada tempe buah karet adalah 5,42%

e) Kandungan lemak pada tempe buah karet yaitu 2.06%.

Keterkaitan dengan Produk Lain Termasuk Perolehan Bahan Baku

Di pasar sudah ada bergabai macam tempe seperti kedelai dan saga, tetapi tempe dari buah karet ini memiliki kandungan gizi yang tidak jauh berbeda dari tempe kedelai. Selain itu bahan baku yang murah sehingga memiliki prospek yang baik.

Peluang Pasar

Peluang produk ini untuk masuk ke pasar sangat besar, banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi tempe sebagai makanan tambaha sehari-hari menjadikan produkini dicari masyarakat. Selain itu harga yang relatif dibawah yang lain.

Media Promosi yang Akan Digunakan

Untuk menunjang proses pemasaran, ada beberapa alternatif yang bisa digunakan untuk mempromosikan produk ini, sehingga lebih dikenal oleh masyarakat dan menjadi pilihan masyarakat. Media itu berupa Stand banner, brosur, beriklan dimedia massa, lewat penyuluhan dan yang lainnya.

Strategi Pemasaran yang Akan Diterapkan

Strategi pemasaran yang digunakan dalam usaha tanaman hias ini menggunakan analisis bauran pemasaran yaitu :

1. Kebijakan Produk Usaha ini bergerak dalam bidang produksi dan distribusi. Jenis produk ini bernama ”Tempe buah karet” yang diambil dari sebagian kata bahan yang digunakan dalam pembuatan produk ini. Hasilnya berupa tempe buah karet yang dikemas dalam plastik dan daun pisang.

2. Kebijakan harga Harga yang diberikan kepada pelanggan yaitu sebesar Rp. 800,00 per bungkus dan harga Rp. 400,00. Harga ini ditentukan berdasar analisis keuangan yang telah dilakukan.Harga ini lebih murah dari harga produk sejenis yang ada di pasaran dengan kualitas yang baik.

3. Kebijakan Promosi Untuk meningkatkan hasil penjulan minuman probiotik maka perlu dilakukan promosi. Bentuk promosi ini diantaranya yaitu pamflet, spanduk, dan media promosi lainnya. Sistem penjualan yang digunakan yaitu penjualan secara tunai, kredit dan sistem konsinyasi.

4. Kebijakan distribusi Distribusi hasil produksi kepada para konsumen dilakukan secara langsung ditempat usaha maupun dan penitipan di warung warung sekitar lokasi.

Hasil Program

 Dari kemajuan diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Buah karet yang tadinya tidak berguna setelah diolah secara optimal dapat menjadi produk untuk menambah pendapatan masyarakat.

2. Sudah diproduksi 1.800 bungkus dan terjual 1.261 bungkus.

3. Profit yang diperoleh (sampai dengan 24 Juni 2009) sebesar Rp. 623.000,00.

4. Sebagai usaha bisnis baru yang layak dijalankan dan sangat menjanjikan.

5. Tercipta usaha sampingan bagi masyarakat guna menambah penghasilan.

6. Telah tumbuh jiwa kewirausahaan tim untuk mengembangkan usaha ini secara lebih luas.

7. Menambah jenis makanan baru / diversivikasi pangan yang ramah lingkungan.

8. Untuk pemasaran, sudah masuk ke berbagai warung. Permintaan semakin hari semakin meningkat diimbangi dengan daya beli konsumen.

Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Buah karet yang tadinya tidak berguna dapat diolah menjadi produk untuk menambah pendapatan masyarakat. 2. Usaha tempe dari buah karet memiliki peluang yang sangat bagus bagi masyarakat dengan adanya potensi yang ada. B. Saran 1. Melihat laporan di atas maka PKM ini mempunyai peluang untuk dikembangkan terus menjadi usaha di bidang produksi makanan.

2. Perlu adanya pengarahan dan bantuan pemasaran dan surat ijin usaha dari pemerintah daerah setempat, agar mampu mengakses pasar secara lebih luas lagi.

 

 

Yang Bertahan Dari Terpaan Krisis

 

Produk pertanian yang paling terkena dampak krisis finansial global adalah sawit, karet, kakao, dan kopi. Menurunnya permintaan mengakibatkan harga komoditas ekspor tersebut menurun.

Demikian pernyataan Menteri Pertanian Anton Apriyantono menyoroti gonjang-ganjing ekonomi dunia terhadap sejumlah komoditas perkebunan beberapa waktu lalu. Merosotnya harga andalan ekspor perkebunan Indonesia ini mulai dirasakan pelaku usaha sejak dua bulan lalu. Itu setidaknya dialami H. A. Sofyan, petani karet di Desa Cidolog, Kec. Cidolog, Kab. Sukabumi, Jabar. Menurutnya, karet lembaran (sheet) kualitas dua yang sebelumnya laku dijual dengan harga Rp19.000 per kg, terjun bebas hingga Rp14.000 per kg. Padahal, membaiknya harga karet baru ia nikmati dua tahun belakangan. Sebelumnya, kata Sofyan, harga karet rata-rata hanya Rp6.000 per kg, kemudian merambat naik menjadi Rp9.000 per kg.

Masih Bisa Untung

Petani yang memulai bisnis perkebunannya sejak 1982 ini mengaku, sekarang hanya bertahan menjalankan usahanya. Maklum, lebih dari 30 orang tenaga kerja bergantung pada roda bisnis perkebunan karet, vanili, dan kapulaga miliknya. Sampai saat ini, dari 40 ha kebun karet, lima hektar telah berproduksi dan menghasilkan sekitar 1,5 ton karet lembaran. Beruntung, ia belum kesulitan menjual hasil kebunnya. “Saya tidak tahu kalau harga karet ke depannya terus merosot,” ujarnya. Dengan harga Rp14.000 per kg, ia mengakui masih mendapat keuntungan karena biaya produksi karet lembaran berkisar Rp11.500–Rp12.000 per kg. Jadi, ia masih mendapat keuntungan Rp2.000—Rp2.500 per kg.

Penghasilan Sofyan jelas berkurang. Sebelum krisis ia mampu mengantongi Rp28,5 juta per bulan, kini hanya sekitar Rp21 juta dari hasil kebun karetnya. Ia pun tak bisa mengandalkan komoditas perkebunan lain, yakni vanili, cengkeh, dan kapulaga, karena harganya pun turun. Vanili misalnya, saat ini hanya dihargai Rp80.000 per kg kering. Merosot jauh dibandingkan dengan harga sebelumnya yang mencapai Rp170.000 per kg.

Hal serupa dialami oleh Kliwon bin Jamil, petani karet di Desa Pondok Mijah, Kec. Muaro Jambi, Jambi. Menurutnya, sejak Oktober 2008 harga karet olahannya merosot hingga Rp9.000 per kg dari harga sebelumnya yang Rp14.500 per kg. Meskipun begitu ia mengakui, harga sekarang bukanlah yang terendah karena beberapa tahun lalu harga komoditas perkebunan ini hanya berkisar Rp5.000—Rp8.000 per kg.

Kendati khawatir dengan merosotnya harga karet, Kliwon mengaku masih bisa mendapat keuntungan dari kebun karetnya. “Walaupun harganya hanya Rp5.000 per kg tapi kalau sehari bisa mendapat 30—40 kg, petani karet masih bagus pendapatannya,” tutur Kliwon ketika ditemui AGRINA di kebunnya.  Berdasarkan perhitungannya, jika dalam sebulan petani mampu menghasilkan 600 kg karet, maka penghasilannya mencapai Rp3 juta per bulan.

Syaratnya, petani harus mau merawat kebunnya dengan cara memupuk. Apalagi saat masuk bulan Agustus hingga Oktober, ketika tanaman karet memasuki fase gugur daun. Usai gugur daun, tanaman yang tidak dirawat produksinya akan anjlok hingga 50%, sedangkan yang dirawat hanya turun 30%. “Mekipun harga karet jatuh akibat krisis, penghasilan petani karet tetap tinggi kalau kebunnya dirawat,” tandas Kliwon.

 

 

Ekspor Langsung

Jika petani karet di Kab. Sukabumi, Jabar, dan petani Jambi masih ada yang bisa menikmati keuntungan di tengah surutnya gelombang ekonomi dunia, lain halnya petani karet di Kalimantan. Menurut Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKI), Lukman Zakaria, banyak petani karet di Kalimantan tidak bisa menjual hasil kebunnya karena transportasi yang sangat rumit dan sulit. “Kasihan petani, panennya numpuk nggak terjual. Harganya hancur sekali, bisa sampai Rp1.000 per kg,” ungkap Zakaria. Itulah sebabnya, menurut Zakaria, pihaknya selalu berusaha mencari jalan keluar kesulitan anggotanya dan tidak semata-mata bergantung pada Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo).

Jalur distribusi yang singkat memang belum dinikmati sebagian besar petani karet. Biasanya petani menjual karet ke pengumpul di tingkat desa yang langsung membawanya ke pabrik. Berbeda dengan petani karet di Kaltim misalnya, yang mengandalkan transportasi air. Zakaria mengungkap, produksi karet alam sebesar 1.000 ton per bulan dari Kaltim harus dibawa ke Kalsel melalui jalur air yang menempuh jarak lebih dari 600 km.  “Panjang sekali  jalur distribusinya sehingga yang dinikmati petani sangat kecil,” ucapnya.

Selain itu, Zakaria menambahkan, pihaknya mencoba menerobos agar petani bisa mendapat izin ekspor langsung. Bersama 12 asosiasi petani karet seluruh Indonesia ia bersepakat mengajukan proposal yang ditujukan kepada Menteri Perdagangan. “Selama ini kita ‘kan selalu di bawah Gapkindo sehingga sepertinya ada unsur monopoli dan persaingan yang tidak sehat.  Petani di Kalimantan seharusnya bisa langsung ekspor ke Malaysia lewat Entikong,” jelas Zakaria.

About obudbuddy

nothing special, just extraordinary... hha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s